Sex and the city

Hari ini ulang tahun Jakarta yang ke 483. Jakarta tempat gue dilahirkan dan tembat gue dibesarkan hingga sekarang. Baik buruknya kota ini sudah gue rasakan secara langsung. Bahkan buruknya masih gue alami saat ini seperti macetnya lalu lintas, polusi maupun sarana angkutan kota yang amburadul. Pesimis semua itu bisa diatasi selama semua orang masih mementingkan dirinya sendiri.
Entah kenapa di ulang tahun Jakarta kali ini yang terpikirkan oleh gue adalah Jakarta dan seks. Mungkin karena skandal video seks artis itu. Atau karena gue habis menonton film sex and the city. Jakarta di malam hari begitu mempesona. Jalanan mulai lengang tapi di beberapa tempat baru memulai keramaiannya. Club-club bertaburan dimana-mana. Yang besar, yang kecil. Club menjadi tempat menggila bagi warga Jakarta yang sudah suntuk dari pagi hingga sore hari. Club menjadi tempat melepaskan sisi gelap dan liat tiap warganya. Club menjadi tempat beberapa orang membuka cadar yang menutupi orientasi seksual sebenarnya.
Club menjadi tempat awal eksplorasi seksual di Jakarta. Banyak lagi tempat-tempat yang menawarkan aneka bentuk eksplorasi seksual tersebut. Sedikit yang sudah gue cicipi, banyak lagi yang bertaburan dan tentunya tersembunyi. Semuanya beroperasi dengan riuhnya di dalam tapi nampak tenang dari luar. Seperti pepatah, air beriak tanda tak dalam.
Ketenangan itu mungkin tergambar dari sosok - sosok artis yang terlibat kasus itu. Mereka tampak manis di luar, menutupi keliaran nafsu seks. Hingga semuanya terungkap, semua berbalik 180 derajat. Semua menghujat. Mencaci, memaki, mencap dosa.
Gue kembali teringat adegan di film Sex and The City 2, di kota Abudabi. Dimana wanita-wanita di sana yang selalu memakai burka hitam, ternyata memakai pakaian-pakaian modern di dalamnya. Mungkin ini yang harus terjadi di kota Jakarta. Kita harus nampak baik dari luar. Menuruti saja apa kemauan kaum yang berkoar. Kita tenang-tenang saja. Toh selalu ada jalan untuk mengalihkan itu semua.

Comments

Popular Posts