Production Day

Ini sebuah cerita mengenai keterlibatan gue dalam sebuah kegiatan kantor yang bernama produksi. Sebuah nama dari 1 department di kantor yang beberapa bulan lalu diputuskan untuk di tutup.

Dimulai minggu lalu gue mendapat order untuk membuat 10 poster untuk sebuah seminar dari Frisian Flag. Sepuluh poster untuk 10 tema seminar yang berbeda. Dan kesepuluh poster itu memuat image photo yang berbeda pula. Image photo ada banyak di internet tapi pemakaiannya secara sembarangan tanpa izin adalah ilegal. Harusnya jika ingin memiliki image - image tersebut dan memakainya kita harus membelinya. Tapi apadaya client ini pelit. Mereka tidak mau membeli image yang tiap imagenya bisa seharga 1 juta rupiah.
Mencari image tertentu yang bagus dari segi artistik dan beresolusi cukup besar untuk dibuatkan poster berukuran A2 adalah perkara yang tidak mudah.

Poster - poster itu rencananya sebagai dekorasi di foye ballroom hotel. Jadinya poster - poster itu diletakan di stander lukisan. Sudah dicari suplier yang bisa menyewakan 10 stander. Tapi apa daya ternyata mereka berubah konsep. POster - poster itu mau dijadikan hanging banner. Awalnya gue hanya memperbesar ukuran poster tersebut agar tidak kebanting dengan ukuran tembok yang besar. Tetap dalam format poster. Tapi ternyata kemudian mereka mau hanging banner itu dibuat dalam format hanging banner kebanyakan, memanjang ke bawah. Berarti rubah kembali layout. Belum lagi rubah foto yang awalanya landscape menjadi portrait. Ukuran 1,5 x 4 meter. Bagaimana dengan image? Untung gue mengerjakannya dengan corel. Gue bisa mengeksportnya ke jpg dengan resolusi yang besar untuk kemudian di blowup ke dalam ukuran sebenarnya. Dan dari 10 tema itu ternyata mereka hanya memilih 6 saja.

Hanging banner itu akan digantung di sekat AC di ballroom tersebut. Dengan persyaratan dari pihak hotel, bahan harus ringan. Okey, dimana gue bisa mendapatkan bahan yang ringan? Suplier digital printing langganana gue tidak emmilikinya. Teringat suplier hasil rekomendasi client yang katanya bisa memprint gambar dengan resolusi bagus. Gue berkomunikasi dengan salah satu marketing di sana via email. Gue tanyakan bahan flexi yang tipis. Dan dia jawab keesokan harinya bahwa mereka punya bahan yang gue maksud. Maka jumat pagi (12/11) gue naik taxi ke kelapa gading, menuju tempat percetakan yang dimaksud. Design sudah diaproval, uang sudah ada. Gue terpaksa naik taxi karena transportasi kantor semua sudah dipakai.

Untung perjalanan ke Kelapa Gading tidak terlalu macet. Tapi apa yang gue temui di sana? Ternyata bahan yang mereka tawarkan ke gue sama saja ketebalannya dengan suplier yang ada di dekat kantor gue. Sia - sia gue ke sana dengan ongkos taxi yang mencapai 75000. Gue pulang dengan banyak pikiran di kepala. Permasalahan ini belum selesai. Mencari solusi lainnya. Tapi belum selesai gue menemukan solusi material banner, muncul masalah lain. Tiba-tiba saja partner client minta agar logo mereka dibuat menajdi lebi stand out. Minta diberi glow atau efek shadow. Jadilah gue menunggu mereka memilih 3 alternative treatment logo yang gue berikan.

Akhirnya gue menemukan solusi material hanging banner yang lebih ringan. Bukan flexi yang tipis, tapi bahan albatros yang biasa diapaki untuk membuat standing banner. Tapi harga per meternya 90.000, bandingkan dengan flexi yang hanya 25.000 per meter. Tapi aproval final belum juga ada. Logo itu, aarrgghhh....Dan akhirnya mereka memberikan pilihan mereka pada jam 15.30 (loading jam 21.00)

Oh , masalah belum selesai. Samapi di tempat percetakan langganan gue, mereka tidak menyanggupi mencetak banner sebanyak itu dalam waktu yang sedikit itu. Mesin pencetak yang khusus bahan albatros sedang penuh orderan. Menelepon percetakan lainnya, ternyata mereka memiliki mesin dengan lebar 1,2 meter saja. Sudah tidak ada waktu lagi mencari suplier baru yang jauh-jauh. Akhirnya diputuskan dengan bahan flexi standar. Berdoa saja pihak hotel tidak keberatan.

Akhirnya gue sampai di lokasi. Dan benar saja pihak hotel merasa banner itu masih terlalu berat. Mereka menyarankan agar banner itu tidak digantung tapi ditempel ke dinding ballroom yang dilapisi bahan seperti busa. Awalnya mereka menyuruh memakai pin, tapi akhirnya mereka membolehkan memakai skrup, asalkan diletakan pada bagian yang tersebunyi. BErhubung panjang banner 4 meter sedangkan tinggi dinding 5,3 meter, maka bagian atas banner terletak di bagian dinding paling atas. Kerusakan kecil yang terjadi akibat skrup tidak akan terlihat.

Gue meninggalkan hotel itu sekitar pukul 12.00 malam. Itu pun karena lamanya tangga yang dijanjikan pihak hotel. Suplier gue masih tinggal di ballroom untuk menyelesaikan bebeapa banner lagi. Dari 1 lokasi event ke lokasi event yang lain. Kali ini Y & Y restaurant di Grand Indonesia. Mall yang besar itu semakin besar karena tidak adanya pengunjung. Dan gue di sana hingga jam 3.30 pagi

Comments

Popular Posts