Trip To Lombok

Akhirnya terlaksana juga liburan sekantor keluar pulau Jawa. Ini yang pertama kali kantor gue lakukan. Dulu sekali pernah ada niat ke Bali tapi ternyata gagal. Kita kumpul di kantor Hari Jumat (7/7) jam 5 pagi karena pesawat kita take off jam 7. Total yang pergi 13 orang. Karena yang ikut pergi termasuk 2 orang supir kantor, jadinya kita naik 3 taxi ke sana. Untungnya penerbangan on time tidak ada delay. Padahal kita naik Lion Air.

Sampai di lombok kita disambut oleh pihak Tour Guide dengan pengalungan bunga hahahah. Dengan sebuah mini bus kita berangkat meninggalkan airport menuju tempat persinggahan pertama, rumah makan. Jujur saja, sepanjang perjalanan menuju tempat makan tidak ada pemandangan yang menarik di sini. Tidak seperti Bali yang setiap sisi jalannya bisa menjadi objek mata yang menarik. Untunglah tidak lama karena kita telah sampai di sebuah restoran yang menyajikan masakan Ayam Taliwang. Ayam yang lezat dan porsi Jumbo, melendunglah perut ini.

Tujuan berikutnya adalah pusat kerajinan keramik. Di sana selain bisa belanja aneka bentuk kerajinan tanah liat kita juga bisa belajar membuat tembikar sendiri. Sebenarnya gue mau belajar tapi rasa kantuk ini sangat menguasai tubuh. Gue beberapa kali tertidur di mobil. Termasuk dalam perjalanan menuju tempat berikutnya. Pusat kerajinan penenunan kain. Di sana dijual aneka macam kain tenun khas lombok. Ada juga demonstrasi pembuatan kain tenun. Pengunjung bisa ikut merasakan duduk di balik alat penenun. Dan tiba-tiba saja gue bersin - bersin. Mata berair , hingga batuk. Cepat gue sadar, jangan-jangan gue alergi terhadap benang - benang di sana. Cepat-cepat gue menyingkir dari area penenunan itu. Oh sayang sekali, niatnya inging lebih mengapresiasikan kain traditional Indonesia hihihi. Apa daya gue alergi.

Sebenarnya tujuan berikutnya adalah desa adat suku Sasak, tapi ternyata anak-anak sudah pada jenuh. Mereka ingin segera ke pantai. Jadilah kita ke Pantai Kuta. Bakan, bukan Kuta Bali.PAntai ini masih asri. MAsih dalam tahap pembangunan. Belum ramai oleh bangunan-bangunan. Airnya hangat. PAsirnya merah muda. Awalnya gue enggan untuk nyebur. Pada akhirnya godaan semakin kuat dan lepaslah kaos ini untuk gue nyemplung ke air laut hahahaha. Oh how  i love sea. 

Setelah puas nyebur di air kita melanjutkan perjalanan menuju hotel. Holiday Inn Resort. Mandi, dan menghilangkan penat sebentar untuk kemudian pergi makan malam. Kita pergi ke sebuah ruas jalan yang ramai oleh restoran dan cafe. Tapi pengunjungnya tidak begitu ramai. Salah satu cafe yang mempunyai life band memainkan musik ayng cukup tua. Tapi kita tidak makan di sana, kita makan di restoran bernama Matahari. Dilihat buku menunya sih banyak ragam masakan dari mancanegara yaaa. Jadinya gue mencoba memesan maskan mexico. Tapi koq lama ya. Mesen minum aja lama. Apalagi mesen makanan. Dan meja gue masuk dalam urutan terakhir pula dalam pelayanan. Ada kali 1 jam lebih gue menunggu makanan gue datang.Gak rekomen deh makan di restoran itu.

Kelar makan, rombongan terbagi 2. Ada yang lanjut ke hotel, beristirahat atau ikut mancing di laut. And i go with the second group. Kapan lagi brooww. Agak ngeri juga ya awalnya melihat laut yang gelap hanya diterangi oleh sahaya bulan purnama. Tapi sungguh bulannya nampak jelas sekali. Langitnya bersih. Suasana angin tenang, ombak juga tidak begitu besar. Yang ikut mancing ada 6 orang. Sementara di perahu ada 2 orang "pengemudi". Sebenarnya yang benar-benar niat mancing hanya 2 orang, bos gue dan supirnya yang sering ikut mancing di Jakarta.Tapi sayang seribu sayang, hingga jam 12 malam pun tidak seekor ikan pun ngangkut di mata kail kita. Mungkin karena malam jumat, ikannya pergi pengajian semua.
Keesokan harinya kita pergi menuju ke pulau Gili Trawangan. Salah satu pulau terkenal di propinsi ini. Kita menyewa sebuah perahu untuk mencapai pulau itu. Dan sekali lagi dalam perjalanan menuju pulau itu kita disuguhkan pemandangan air laut yang sangat biru. Di depan kita sudah menanti 3 pulau. Salah satunya adalah Gili Trawangan itu.  Sampai di pulau itu sudah ramai oleh para turis. Kebanyakan turis mancanegara. Mereka banyak berjemur maupun snorkling. Yes, aktivitas ke 2 itulah yang kita tunggu. Setelah memperoleh sebuah tempat peristirahatan dan meletakan tas-tas kita, mulailah mempersiapkan diri untuk snorkling. Dimulai dengan memilih pelampung (bagi yg tidak bisa berenang), sepatu katak dan alat bantu pernapasan. Baru pertama kali ini gue memakai peralatan snorkling. Lucu ya, ternyata kalau pakai sepatu katak kita harus jalan mundur. Beberapa kali gue jatuh di pantai saat berjalan menuju lokasi snorking. Karena lokasi snorklingnya sendiri bukan di tengah laut tapi masih di area pinggiran jadinya kita berjalan kaki dari tepi pantai.Sempat panik karena gagal ernapas dengan alat bantu itu. Beberapa kali air masuk ke hidung. perih. Akhirnya bisa juga enguasai diri dan menikmati pemandangan ikan-ikan lucu yang berwana-warni. Its like an aquarium. Tapi karena ramai yaa beberapa kali nabrak-nabrak hahaha. Sekali gue keasikan snorkling, tidak bisa membawa diri yang ada terbawa arus, tau-tau saat nengok ke kiri , dasar laut yang awalnya putih oleh pasir tiba-tiba menjadi warna biru tua. Palung. Hiiiiii.............

Selain snorkling pengunjung dapat menikmati berkeliling pulau dengan menyewa sepeda atau naik delman. Selebihnya turis-turis itu gue lihat lebih menikmati panasnya matahari untuk berjemur, sambil membaca buku, mendengarkan musik atau tidur. Gue sendiri tidak sempat mengelilingi pulau dengan sepeda, jadinya tidak tahu apa yang ada di bagaian lain pulau itu. Tapi dari cerita teman-teman, memang tidak banyak fasilitas yang tersedia di sana. Maksudnya water sport, seperti di Bali. Untuk canoe saja hanya ada 2, dan itupun tanpa pelayanan yang bagus. Masa gue harus angkut sendiri kanoenya ke air. Dan sepertinya tidaka da polisi, buktinya teman gue yang penuh tattoo ditawari ganja hahahah. Tapi kalau kita menyukai laut dan bersama teman-teman yang asik, kita bisa lupa waktu. Gue sendiri snorkling hingga 2 putaran. Selebihnya guling-gulingan di pasir. Hitamlah kulit ini. 

Jam 3 kita meninggalkan pulau Gili Trawangan, menuju Gili Meno. Pulau yang lebih kecil lagi. Pulau itu sepi dari pengunjung. Banyak cafe berjajar di pinggir pantai. Di sana sebagian dari kita nik Bottom Glass Boat. Itu lho, perahu yang ada jendela kata di lantainya. Tujuannya untuk melihat pemandnagan laut di bawahnya. Awalnya cukup menarik tapi lama-lama bosan dan mengantuk. Pemandangan lautnya sendiri tidak semuanya menarik. Ikan berwana-warna sih ada, bahkan beberapa penyu laut. Tapi terumbu karangnya sudah banyak yang mati. Sayang sekali. Pelayanan di cafe-cafe itu juga kurang. Lama sekali kita untuk mesan minum saja. Jadinya kita tidak berlama-lama di pulau itu.  Lalu kita melanjutkan perjalanan pulang. Di perjalanan pulang kita sempat menikmati pemandangan yang langka, setidaknya bagi gue. Sunset di laut, dari atas atap perahu. Langit yang jingga, laut yang tenang dengan semilir angin dikala perahu membelah laut. Menyaksikan detik-detik tenggelamnya matahari di ufuk barat. Lebih indah daripada saat gue menyaksikan sunset di Uluwatu.
Hari kedua di Lombok ditutup dengan makan malam di Menega. Tempat makan di pinggir pantai ala Jimbaran di Bali.. Sebelum balik ke hotel kita menuju sebuah mini market. Ada yang beli rokok, cemilan dan beer. Well, itu gue sih yang beli beer. NIatnya sampai hotel belum mau tidur dulu. Mau nongkrong di pinggir pantai hotel. Hanya 6 dari kita yang melanjutkan nongkrong di tepi pantai. Pantainya sendiri gelap. Kita hanya duduk di emperan sebuah toko di hotel yang menghadap pintu masuk ke pantai. Tapi di langit sedang ada bulan purnama. Terang sekali. Lagi-lagi pemandangan alam yang indah.Selepas ngobrol ngalur ngidul selama 2 jam kita kembali ke kamar masing-masing. Dan di sinilah kejadian konyol terjadi. Hotel tempat kita menginap kan terdiri dari rumah yang memiliki 4 kamar. Seperti bungalow. MAsing-masing memiliki 2 pintu masuk, di depan dan belakang. Saat kita akan keluar, kita melalui pintu belakang, karena dekat ke pantai. Dan ternyata pintu belakang bisa dikunci dari dalam. Nah ketika kita ingin masuk, ternyata pintu belakang itu tidak bisa dibuka dengan kunci pintu depan. Ironisnya, ketika kita membuka pintu depan dengan kunci, yang terjadi adalah pintu depan terkunci dari dalam menggunakan grendel. Segala usah aala Mac Gayver dilakukan untuk bisa melepaskan grendel, tapi tidak berhasil. Akhirnya dengan menahan malu, kita menuju front desk meminta tolong mereka membukakan pintu belakang. Tanpa menjelaskan grendel pintu depan.

Hari terakhir. Gak rela rasanya untuk pulang. Seandainya gue saat itu punya uang lebih, pasti akan extend dan menginap di Gili Trawangan. Tapi apa daya, uang tipis. Rombongan terpecah 2. Ada yang pergi meninggalkan hotel duluan, sekitar pukul 10 pagi karena mereka ingin berburu oleh-oleh. Sementara rombongan kedua akan meninggalkan hotel sore hari, 2 jam menjelang take off pesawat. Gue termasuk rombongan ke 2. Yaa buat apa beli oleh-oleh kalau gak ada uang. Toh bokap nyokap tidak pernah suka oleh-oleh. Jadinya gue dan rombongan ke dua bermain-main di pantai dekat hotel. Sayang pantainya berkarang, meski tidak besar - besar tapi cukup  menyulitkan untuk berjalan. Sementtara yang lain bermain uno di pasir. Selepas puas bermain rombongan ke 2 juga meninggalkan hotel. Mampir sebentar ke sebuah rumah makan. Alhamdulillah pelayanan di restaurant ini meuaskan dan rasanya juga enak. Dan di dekat situ pun ternyata ada art market. Yang mau beli oleh-oleh mampir sebentar ke sana.

Akhirnya kita semua bertemu di airport. Ternyata pesawatnya delay 1 jam. Demi mengusir kebosanan kita kembali menggelar permainan Unostako di ruang tunggu airport. Bahkan ada yang melanjutkan bermain di dalam pesawat. Maklum Lion Air, selain tidak dapat makana, 2 jam perjalanan terasa membosankan. Kembali ke Jakarta, kembali ke rumah masing-masing. membawa banyak kenangan indah dan kulit yang menghitam. Lombok, aku akan kembali. Untuk mengambil ikat pinggang yang tertinggal di hotel, hahahaha.

Comments

Derajat Celcius said…
Hahaha...that's loads of fun!

Popular Posts